Soal Wacana E-Voting Pilkada, Pengamat Politik: Butuh Waktu Minimal 4 Tahun Agar Siap Digunakan

- 23 Oktober 2020, 12:40 WIB
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Komputer (Unikom) Bandung, Adiyana Slamet
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Komputer (Unikom) Bandung, Adiyana Slamet /Instagram.com/vivere_adi/


PR TASIKMALAYA - Pengamat Komunikasi Politik Universitas Komputer (Unikom) Bandung, Adiyana Slamet menilai wacana perubahan sistem pemilihan langsung menjadi digital (E-Voting) tidak serta merta bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Menurutnya, untuk melakukan E-Voting tak hanya dilihat dari kelengkapan infrastruktur saja yang di butuhkan.

Akan tetapi, dibutuhkan juga sosialisasi kepada masyarakat dan pelatihan petugas lapangan.

Baca Juga: Sebut Trump Bertanggung Jawab atas Banyak Kematian, Joe Biden: Dia Tak Boleh Tetap Jadi Presiden AS

Ia juga beranggap, wacana perubahan sistem pemilihan konvensional menjadi digital ini mencuat, seiring dengan perkembangan pesat teknologi yang ada di Indonesia.

"Memang bukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan bagi bangsa kita, untuk merubah mekanisme pemilihan umum di segala tingkat dari yang konvensional menjadi digital," ujarnya pada Jumat 23 Oktober 2020 dikutip Pikiran.Rakyat-Tasikmalaya.com dalam RRI.

"Hanya saja, hal ini perlu adanya adaptasi, sosialisasi, dan pelatihan bagi petugas lapangan di samping penyiapan infrastukturnya itu sendiri," tambahnya.

Baca Juga: Titipkan Dana Pemulihan Ekonomi Nasional, Ridwan Kamil: Berhasil Melebihi Target

Saat di singgung mengenai manfaat dan permasalahan yang harus di antisipasi jika E-Voting dilaksanakan, Adiyana menjelaskan berbagai manfaat bisa dirasakan, akan tetapi terdapat ancaman juga dibaliknya.

"Kalau manfaatnya dar E-Voting ini pasti sangat banyak, mulai dari penghematan biaya setiap menggelar pesta demokrasi, kemudahan bagi masyarakat dalam menyalurkan hak pilih mereka, pemangkasan waktu dalam penentuan pasangan calon terpilih," jelasnya.

"Akan tetapi ada permasalahan yang harus di perhatikan juga di dalamnya, seperti keamanan data base dari masyarakat," tambahnya.

Baca Juga: Hoaks Atau Fakta: Benarkah Vaksin Covid-19 Bisa Timbulkan Kerusakan DNA pada Manusia?

Ia pun mencontohkan dengan kasus di Amerika Serikat beberapa tahun silam ketika pemilihan presiden AS yang mempertemukan Donald Trump dan pesaingnya pada saat itu Hillary Clinton.

"Data base Facebook sebagai platfrom digital terbesar, bisa di tembus. Ini harus menjadi perhatian serius," lanjutnya.

Ia pun memprediksikan jika E-Voting ini di realisasikan idealnya pemerintah membutuhkan waktu minimal empat tahun untuk membiasakan serta mengoptimalkan mekanisme ini.

Baca Juga: Belum Resmi Debut, ENHYPEN Sudah Raih Prestasi Lewat Channel Youtubenya

"Kalau prediksi minimal sekitar 4 tahun E-Voting ini baru siap di gunakan jika memang akan di lakukan perubahan," tutupnya.***

 

Editor: Tita Salsabila

Sumber: RRI


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah