Uni Eropa Janjikan Paket Bantuan, G20 Sepakat Bekerja Sama untuk Cegah Krisis Kemanusiaan di Afghanistan

13 Oktober 2021, 10:50 WIB
Para pemimpin negara G20 telah sepakat untuk memberikan paket bantuan ke Afghanistan untuk mencegah bencana kemanusiaan. /REUTERS/Jeenah Moon

PR TASIKMALAYA – Para pemimpin negara-negara G20 sepakat untuk bekerja sama menghindari bencana kemanusiaan di Afghanistan.

Dalam pembicaran antar negara-negara G20, Uni Eropa menjanjikan paket bantuan untuk Afghanistan hingga triliunan rupiah dan tuan rumah Italia menekankan perlunya mempertahankan kontak dengan Taliban.

Presiden AS Joe Biden, Recep Tayyip Erdogan dari Turki dan Narendra Modi dari India bergabung dalam pertemuan secara virtual tentang krisis ekonomi dan kemanusiaan di Afghanistan, yang membayangi sejak negara itu diambil alih Taliban.

Baca Juga: Adik Gus Miftah Minta Maaf, Akui Emosi dan Cuma Ingin Cari Perhatian

Dilansir PikiranRakyat-Tasikmalaya.com dari Channel News Asia, Uni Eropa membuka pembicaraan dengan menjanjikan triliunan rupiah, termasuk uang untuk kebutuhan kemanusiaan yang mendesak di Afghanistan.

Selain itu, dana tersebut juga akan diberikan pada negara tetangga Afghanistan yang menerima pelarian oleh warga negara itu dari Taliban.

Perdana Menteri Italia Mario Draghi telah mendorong pertemuan G20 sejak pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban pada Agustus lalu.

Baca Juga: Kode Redeem Free Fire 'FF' Rabu 13 Oktober 2021, Banyak Hadiah Menarik!

Ia bersikeras bahwa perdebatan tentang solusi harus melampaui kelompok sekutu Barat yang biasa.

Presiden Tiongkok dan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak hadir sendiri, alih-alih mengirim perwakilan, tetapi Draghi bersikeras mereka semua sepakat tentang perlunya membantu lebih banyak.

"Alih-alih menanggapi dan berdebat kami sekarang memiliki kesadaran akan keadaan darurat ini dan tanggung jawab besar yang dimiliki G20 terhadap rakyat Afghanistan," katanya.

Baca Juga: Tes Kepribadian: Gambar Ini dapat Mengungkapkan Kemungkinan Diri Anda untuk Menipu, Salah Satunya Berencana

Bantuan internasional telah diblokir ke Afghanistan sejak Taliban kembali berkuasa menyusul penarikan pasukan AS dan internasional lainnya setelah 20 tahun perang.

Aset negara yang disimpan di luar negeri telah dibekukan, sedangkan harga pangan dan pengangguran meningkat, memicu peringatan bencana kemanusiaan begitu musim dingin tiba.

"Untuk menyaksikan 40 juta orang jatuh ke dalam kekacauan karena listrik tidak dapat disuplai dan tidak ada sistem keuangan, itu tidak dapat dan tidak boleh menjadi tujuan masyarakat internasional," kata Kanselir Jerman Angela Merkel.

Baca Juga: Soal Petisi untuk Persib, Eko Maung Sebut Bobotoh Mudah Dijinakkan

PBB dan Qatar, perantara utama di Afghanistan yang juga menjadi tuan rumah pembicaraan antara AS dan Taliban, juga diundang ke pembicaraan tertutup.

Uni Eropa menekankan uangnya akan masuk ke organisasi internasional yang bekerja di lapangan daripada pemerintah sementara Taliban, yang belum diakui oleh pemerintah lain.

Namun, Draghi mengatakan bahwa Taliban sangat penting sebagai perantara untuk menyalurkan bantuan.

Baca Juga: Eko Maung Sebut Bobotoh Persib Saat Ini Alami Krisis Kepemimpinan: Sungguh Menyedihkan!

"Sangat sulit untuk melihat bagaimana seseorang dapat membantu rakyat Afghanistan tanpa semacam keterlibatan pemerintah Taliban. Jika mereka tidak ingin kita masuk, kita tidak akan masuk," tandasnya.

Menurut catatan pengarahan yang diterbitkan oleh kantor Draghi, para pemimpin G20 menekankan pentingnya menghormati hak asasi manusia dan kebebasan mendasar, terutama hak-hak perempuan dan minoritas.

Mereka juga membahas masalah keamanan, dengan Taliban sendiri menghadapi ancaman dari Negara Islam-Khorasan (ISIS-K), yang telah meluncurkan serangkaian serangan mematikan.

Baca Juga: Jadwal TV Hari Ini Rabu, 13 Oktober 2021: Trans TV, SCTV, NET TV, dan TVRI, Ada Film 'John Wick'

"Afghanistan tidak boleh menjadi tempat yang aman bagi teroris dan ancaman bagi keamanan internasional," kata catatan pengarahan itu.

Mereka juga mendesak Taliban untuk memutuskan hubungan mereka dengan kelompok teroris.***

Editor: Linda Agnesia

Sumber: Channel News Asia

Tags

Terkini

Terpopuler