Berpotensi Rusak Lingkungan, Warga Dua Desa Keluhkan Aktivitas Pengeboran Sumur Artesis di Walahir

- 2 Juni 2020, 20:33 WIB
WARGA di Desa Sukamulih dan Desa Sukaraharja Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya, mengeluhkan terkait adanya kegiatan pengeboran sumur Arthesis yang dilakukan sebuah perusahaan ternak ayam, tepatnya di Kampung Pangkalan Kecamatan Sariwangi, tidak jauh dari situs Makan Walahir dan Wisata Batu Mahpar.* / /Aris MF/KP

PR TASIKMALAYA - Warga masyarakat di dua desa, yakni Desa Sukamulih dan Sukaraharja Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya, yang dilakukan sebuah perusahaan ternak ayam, tepatnya di Kampung Pangkalan Kecamatan Sariwangi, tidak jauh dari situs Makan Walahir dan lokasi Wisata Batu Mahpar.

Pasalnya, mereka menilai jika lokasi tersebut merupakan aliran sumber mata air tiga sungai yang selama ini memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat, yakni sungai Cimerah, sungai Cikunten dan sungai Cimulu.

Jika ada aktivitas penyedotan di lokasi sumber air, maka dipastikan akan sangat berdampak terjadinya kekeringan sumber mata air.

Baca Juga: Usulan Tambahan Anggaran 5 Miliar Tidak Disanggupi Pemkab, KPU Terus Berupaya Dapatkan Solusi

Kehawatiran warga inipun kemudian disampaikan oleh puluhan perwakilan warga kepada Abah Anton Charliyan, yang merupakan Mantan Kapolda Jawa Barat dan kini pemilik Kawasan Wisata Batu Ampar Galunggung, masih di lokasi kedua desa tersebut.

 WARGA di Desa Sukamulih dan Desa Sukaraharja Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya, mengeluhkan terkait adanya kegiatan pengeboran sumur Arthesis yang dilakukan sebuah perusahaan ternak ayam, tepatnya di Kampung Pangkalan Kecamatan Sariwangi, tidak jauh dari situs Makan Walahir dan Wisata Batu Mahpar.*
WARGA di Desa Sukamulih dan Desa Sukaraharja Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya, mengeluhkan terkait adanya kegiatan pengeboran sumur Arthesis yang dilakukan sebuah perusahaan ternak ayam, tepatnya di Kampung Pangkalan Kecamatan Sariwangi, tidak jauh dari situs Makan Walahir dan Wisata Batu Mahpar.* /Aris MF/KP

"Wilayah tersebut merupakan aliran sumber mata air yang menuju Sungai Cimerah, Cikunten dan Cimulu. Kalau disedot dari atas, maka akan berdampak terjadinya kekeringan sumber air," jelas Bah Uje, Sesepuh lokasi setempat.

Pertemuan yang dipimpin oleh Aktivis Lingkungan Galunggung, Hadi, dihadiri pula Ketua RT 15 RW 07 Kp Benjan, Dindin, Ketua RT 03 RW 03 Budi Santoso, Iwan Wahyu dan tokoh masyarakat lainnya.

Baca Juga: New Normal Mulai Diberlakukan di Tasikmalaya, Polisi Jaga Kerumunan Massa

Halaman:

Editor: Suci Nurzannah Efendi


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X