Sabtu, 29 Februari 2020

Kerap Dicap Negatif dan Resahkan Masyarakat, Anak Punk Tasikmalaya: Jangan Pandang Kami Sebelah Mata

- 14 Februari 2020, 15:10 WIB
Kehidupan anak punk di Tasikmalaya.* /KP/ Asep M Saefuloh

PIKIRAN RAKYAT - Keberadaan anak jalanan yang lebih dikenal dengan anak punk, memang akrab dengan kehidupan kota di berbagai daerah, termasuk di Kota Tasikmalaya.

Mereka kerap ditemukan di pusat-pusat keramaian, seperti taman, perempatan jalan, wilayah pertokoan, dan beberapa tempat umum lainnya.

Banyak di antara mereka yang terlihat mengamen dari satu tempat ke tempat lain, atau menetap menjual suara dan nada gitarnya di sekitaran lampu merah.

Baca Juga: Pendaftaran SNMPTN 2020 Resmi Dibuka, Ketua LTMPT Mohammad Nasih: Segera Perhatikan Kerangka Waktu

Seperti sejumlah anak punk yang ditemui di salah satu persimpangan lampu merah di Kota Tasikmalaya, pada Jumat, 14 Februari 2020 sore.

Mereka terlihat sedang mengamen di antara kendaraan yang berhenti menanti lampu merah kembali berwarna hijau. Sementara, yang lainnya hanya nongkrong di pinggir jalan.

Jika dilihat dari tampilan luar, gaya anak-anak itu memang terlihat kumal, dengan pakaian seperti yang tidak pernah dicuci berhari-hari dan celana jeans sobek. Ada yang menggunakan sendal jepit, ada pula yang menggunakan sepatu.

Baca Juga: Kang Ha Neul, Ahn Jae Hong, Dan Ong Seong Wu Bagikan Kesan Pertama 'Traveler' Musim Kedua Di Argentina

Salah satu di antara anak-anak yang mengamen di tempat itu, Dede mengaku, dirinya sudah kenyang dengan anggapan masyarakat umum tentang anak punk yang selalu negatif.

Tak hanya itu, pria berumur 22 tahun itu juga sadar, masyarakat umum menilai kelakuan dengan tindakan kriminal. Namun, ia tak peduli.

Menurutnya, selama keberadaannya tak merugikan orang lain, orang bebas untuk mengatakan apapun. Kendati begitu, ia tak setuju dengan anggapan orang banyak bahwa anak punk selalu dekat dengan kriminalitas. Kehidupan anak punk di jalanan itu hanya mencari makan dengan cara mengamen.

Baca Juga: The Daddies Siap Tampil di BATC 2020, Simak Pilihan Pemain Putra dalam Perempat Final Melawan Filipina

"Memang tampang kelihatan kriminalitas. Tapi jangan pandang sebelah mata. Mana ada punk nodong? Kita sopan kalau mengamen," kata lelaki dengan tato di kedua lengan dan anting di kedua kupingnya itu.

Dede mengaku, sudah belasan tahun turun ke jalan. Sejak keluar dari sekolah dasar, ia memutuskan menjadi anak jalanan mengikuti kakaknya.

Ia tak mengingat betul alasan memilih jalanan sebagai jalan hidupnya. Yang pasti, ia memiliki masalah dengan rumah. Tak mungkin ada anak yang baik-baik saja di rumah memilih turun ke jalanan dan mencari makan sendiri.

Kehidupan anak punk di Tasikmalaya/ KP/ Asep M Saefuloh
Kehidupan anak punk di Tasikmalaya/ KP/ Asep M Saefuloh

Halaman:

Editor: Tyas Siti Gantina

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

X