Mundurnya Kapal Turki dari Laut Mediterania Disebut sebagai Langkah Positif, Yunani Siap Damai?

- 15 September 2020, 21:26 WIB
ILUSTRASI bendera Yunani dan Turki.* /pixabay
 
PR TASIKMALAYA - Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis menyatakan diri siap berdialog damai dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
 
Hal tersebut diungkap PM Yunani usai Turki menarik Kapal Oruc Reis kembali ke pelabuhan pada Minggu 13 September 2020 setelah berminggu-minggu melaut di Mediterania Timur.
 
Yunani menyambut baik kembalinya Kapal Oruc Reis ke Pelabuhan Antalya sebagai aksi yang meredakan ketegangan.
 
 
Dikutip dari Daily Sabah, Mistotakis menyebut kepulangan kapal survei seismik itu disebut sebagai 'langkah positif pertama'.
 
Ia mengungkapkan pernyataan ini dalam sebuah forum yang digelar di Kota Thessaloniki, Yunani.
 
"Jika kami melihat tindakan yang meredakan, saya siap untuk menjadi yang pertama untuk duduk di meja negosiasi," kata Mitsotakis.
 
PM Yunani itu menambahkan permulaan dialog tergantung pada pendekatan umum yang dilakukan Turki.
 
 
Ketegangan di kawasan Mediterania Timur akhir-akhir ini dipicu oleh eksplorasi sumber daya alam yang dilakukan oleh Turki sejak bulan lalu.
 
Yunani terus memanas-manasi dengan menandatangani perjanjian batas maritim yang kontroversial dengan Mesir.
 
Athena pun menolak itikad baik Ankara untuk berdamai lewat NATO sebelumnya.
 
Situasi semakin memburuk usai Mitsotakis mengumumkan pembelian 18 pesawat tempur jet Rafale dari Prancis untuk menggantikan armada angkatan udara mereka yang masih memakai Mirage 2000.
 
 
Pesanan pertama Yunani akan tiba pada pertengahan 2021 mendatang dan sisanya akan menyusul pada awal 2022.
 
Athena juga telah mendapatkan sokongan dari enam negara Uni Eropa di Laut Mediterania.
 
Kelompok yang disebut MED7 itu dipelopori Prancis dan diikuti Portugal, Spanyol, Italia, Malta, Siprus, serta Yunani.
 
Kendati demikian, PM Yunani mengklaim pihaknya takkan ikut dalam 'perlombaan militer dan kesalahan pertahanan di masa lampau yang tak perlu diulangi'.
 
 
Prancis yang juga berseteru dengan Turki di Libya dan Suriah sempat mengompor-ngompori dengan mengirim armada laut ke Yunani.
 
Kapal induk milik Prancis diikutkan dalam latihan perang bersama Siprus dan Yunani.
 
Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar menuding Presiden Prancis Emmanuel Macron 'memprovokasi dan mendorong permusuhan' Yunani.
 
Adapun penjelajahan Kapal Orus Reis sendiri merupakan upaya Turki untuk mencari potensi gas alam dan minyak bumi yang disebut strategi 'Tanah Air Biru'.
 
 
Ketiadaan kesepakatan perbatasan antara Turki, Yunani, dan Siprus memicu ketegangan di perairan kaya sumber daya hidrokarbon tersebut.***

Editor: Rahmi Nurlatifah

Sumber: Daily Sabah


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X